Kalau ada yang bertanya apakah saya bisa coding, jawaban saya sebenarnya sederhana.
Tidak.
Saya tidak pernah belajar ilmu komputer. Saya tidak mengikuti bootcamp. Saya juga tidak pernah menghabiskan malam untuk menghafal sintaks JavaScript atau membangun proyek latihan seperti yang biasanya disarankan kepada pemula.
Kalau beberapa tahun lalu ada yang mengatakan saya akan membuat aplikasi web sendiri, lengkap dengan backend, database, autentikasi pengguna, sampai proses deployment ke server, saya mungkin hanya tertawa.
Karena saya benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.
Yang saya tahu saat itu hanya sedikit HTML.
Lalu saya bertemu Claude.
Awalnya saya hanya ingin membuat halaman web sederhana. Tidak ada ambisi menjadi software developer. Saya hanya punya beberapa ide kecil yang ingin diwujudkan.
Claude menuliskan kodenya.
Saya menyalinnya.
Lalu muncul error.
Saya kembali bertanya.
Claude menjelaskan.
Saya mencoba lagi.
Error lagi.
Begitu terus.
Anehnya, saya tidak pernah merasa sedang belajar coding.
Saya hanya ingin aplikasi yang saya buat bisa berjalan.
Tanpa sadar, proses itulah yang mengajari saya banyak hal.
Saya belajar tentang API karena aplikasi saya tidak bisa saling berkomunikasi.
Saya belajar tentang database karena data yang saya simpan tiba-tiba hilang.
Saya belajar autentikasi karena semua orang ternyata bisa masuk ke halaman admin.
Saya belajar deployment karena aplikasi yang berjalan di komputer saya ternyata tidak otomatis bisa diakses orang lain.
Semuanya terjadi bukan karena saya sedang mengikuti kurikulum.
Saya belajar karena proyek yang saya buat memaksa saya belajar.
Kalau dipikir-pikir, urutannya benar-benar terbalik.
Dulu saya selalu mengira seseorang harus belajar coding terlebih dahulu, baru bisa membuat produk.
Pengalaman saya justru sebaliknya.
Saya membuat produk lebih dulu.
Lalu belajar setiap kali menemui masalah.
Hari ini orang menyebutnya vibe coding.
Sebagian orang menganggap cara seperti ini berbahaya. Mereka khawatir orang tidak benar-benar memahami kode yang dibuat AI.
Saya mengerti kekhawatiran itu.
Kalau seseorang menyalin semua jawaban AI tanpa pernah mencoba memahami apa yang sedang terjadi, saya juga yakin itu bukan cara belajar yang sehat.
Tetapi pengalaman saya sedikit berbeda.
Saya memang tidak menulis semua kode.
Namun setiap kali aplikasi gagal berjalan, saya tidak punya pilihan selain memahami penyebabnya.
Ketika server tidak mau hidup, saya belajar tentang deployment.
Ketika database bermasalah, saya belajar bagaimana data disimpan.
Ketika API gagal merespons, saya mulai memahami bagaimana dua sistem saling berkomunikasi.
AI memang memberi saya jawaban.
Tetapi proyek yang saya bangun memaksa saya memahami jawaban itu.
Semakin banyak produk yang saya buat, semakin sering saya menyadari bahwa menulis kode ternyata bukan bagian tersulit dari software development.
Bagian yang jauh lebih sulit adalah menentukan apa yang sebenarnya ingin dibangun.
AI bisa membuat formulir dalam hitungan detik.
AI bisa membuat dashboard yang terlihat menarik.
AI bahkan bisa menghasilkan ribuan baris kode dalam beberapa menit.
Tetapi AI tidak tahu apakah fitur itu benar-benar dibutuhkan pengguna.
AI tidak tahu apakah alur yang kita rancang justru membingungkan.
AI juga tidak tahu apakah masalah yang sedang kita selesaikan memang layak diselesaikan.
Di situlah saya mulai melihat software development dengan cara yang berbeda.
Dulu saya mengira seorang developer adalah orang yang paling cepat menulis kode.
Sekarang saya justru berpikir bahwa developer yang baik adalah orang yang paling memahami masalah.
Kodenya bisa ditulis manusia.
Bisa juga ditulis AI.
Tetapi keputusan tentang apa yang harus dibangun tetap menjadi tanggung jawab kita.
Karena itu saya tidak terlalu tertarik memperdebatkan apakah vibe coding akan menggantikan programmer.
Menurut saya, pertanyaannya kurang tepat.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah apakah AI mengubah cara kita belajar menjadi programmer.
Bagi saya, jawabannya iya.
Saya tidak lagi belajar dengan membaca satu buku dari halaman pertama sampai terakhir.
Saya belajar dari proyek yang benar-benar ingin saya selesaikan.
Saya bertanya ketika menemui jalan buntu.
Saya mencoba lagi.
Saya gagal lagi.
Lalu bertanya lagi.
Proses itu terasa jauh lebih hidup daripada sekadar menyelesaikan latihan "Hello, World!" atau menghafal sintaks.
Apakah cara ini cocok untuk semua orang?
Mungkin tidak.
Tetapi bagi saya, cara ini berhasil membuat sesuatu yang dulu terasa mustahil menjadi mungkin.
Hari ini saya masih belum berani menyebut diri saya software engineer.
Masih banyak konsep yang belum saya pahami.
Masih banyak kode yang saya baca sambil mengernyitkan dahi.
Tetapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa saya sama sekali tidak mengerti software development.
Karena saya belajar sedikit demi sedikit, setiap kali produk yang saya bangun meminta saya memahami sesuatu yang baru.
Mungkin inilah perubahan terbesar yang dibawa AI.
Bukan karena AI membuat semua orang tiba-tiba bisa coding.
Melainkan karena AI mengubah cara kita belajar.
Dulu kita merasa harus siap sebelum mulai membuat sesuatu.
Sekarang kita bisa mulai lebih dulu, lalu belajar sepanjang perjalanan.
Dan terus terang, saya lebih menikmati cara yang kedua.