Belum lama ini saya memperhatikan orang-orang yang sedang berbelanja di minimarket.
Hampir semua melakukan hal yang sama. Membandingkan harga, melihat merek, sesekali mengecek tanggal kedaluwarsa. Ada juga yang membaca komposisi, terutama kalau produknya makanan.
Lalu saya mencoba bertanya pada diri sendiri.
Berapa banyak dari kita yang benar-benar mencari tanda SNI sebelum memutuskan membeli?
Kalau jujur, saya sendiri tidak tahu jawabannya. Tetapi dugaan saya sederhana: tidak banyak.
Padahal, hampir semua diskusi tentang standardisasi selalu dimulai dari sisi produsen. Kita berbicara tentang bagaimana mendorong UMKM menerapkan SNI, bagaimana memperbanyak sertifikasi, atau bagaimana meningkatkan kesadaran pelaku usaha.
Jarang sekali ada yang membahas sisi satunya.
Apakah konsumen memang menganggap standar itu penting?
Pertanyaan ini menarik karena SNI tidak muncul begitu saja. Di balik satu sertifikat ada proses yang panjang. Perusahaan harus menguji produknya, memperbaiki proses produksi, menyiapkan dokumentasi, menjalani audit, lalu menjaga sistem itu tetap berjalan. Semua membutuhkan biaya.
Artinya, ketika sebuah perusahaan memutuskan menerapkan SNI, mereka sebenarnya sedang menanam investasi.
Seperti investasi lainnya, tentu ada harapan bahwa biaya itu suatu saat akan kembali.
Masalahnya, bagaimana kalau konsumen tidak pernah membedakan produk yang sudah memenuhi standar dengan produk yang belum?
Kalau situasinya seperti itu, apa yang sebenarnya sedang dibeli konsumen?
Mungkin jawabannya bukan kualitas.
Mungkin yang dibeli adalah harga.
Atau merek yang sudah dikenal.
Atau sekadar karena produk itu sedang diskon.
Kalau dipikir-pikir, itu juga bukan sesuatu yang aneh. Saat membeli air minum, mi instan, lampu LED, atau charger ponsel, sebagian besar dari kita tidak mungkin membawa daftar standar ke toko. Kita membuat keputusan dalam hitungan detik. Harga sering menjadi penentu pertama.
Di situlah saya merasa ada sesuatu yang menarik.
Standar bekerja justru pada hal-hal yang sering tidak kita lihat. Kita baru menyadari pentingnya ketika sesuatu gagal berfungsi. Ketika helm tidak mampu melindungi kepala saat kecelakaan. Ketika kabel listrik mudah terbakar. Ketika mainan anak mengandung bahan yang seharusnya tidak ada.
Selama semua berjalan normal, keberadaan standar nyaris tidak terasa.
Akibatnya, kualitas sering kalah oleh sesuatu yang jauh lebih mudah dibandingkan: harga.
Padahal berbagai kajian menunjukkan bahwa standar dapat meningkatkan konsistensi mutu, efisiensi, dan kepercayaan terhadap produk. Masalahnya, manfaat itu baru berubah menjadi keuntungan ekonomi ketika pasar benar-benar menghargainya.
Kalau pasar tidak memberi penghargaan, investasi pada kualitas menjadi jauh lebih sulit untuk kembali.
Di titik inilah saya mulai melihat persoalan standardisasi dari sudut yang berbeda.
Mungkin masalahnya bukan semata-mata karena pelaku usaha enggan menerapkan SNI.
Mungkin kita juga belum berhasil menciptakan konsumen yang benar-benar menghargai kualitas.
Kalau konsumen belum melihat perbedaannya, pelaku usaha akan terus bertanya apakah biaya sertifikasi layak dikeluarkan. Dari sudut pandang bisnis, pertanyaan itu sepenuhnya masuk akal.
Karena itu, saya semakin yakin bahwa keberhasilan standardisasi tidak cukup diukur dari jumlah sertifikat yang diterbitkan.
Pertanyaan yang lebih penting justru ini.
Apakah semakin banyak konsumen yang sengaja memilih produk karena memenuhi standar?
Kalau jawabannya belum, pekerjaan kita masih panjang.
Pelaku usaha memang perlu didorong untuk menerapkan standar. Tetapi konsumen juga perlu memahami mengapa standar itu ada. Pengawasan pasar harus memastikan produk yang tidak memenuhi ketentuan tidak bersaing secara tidak adil dengan produk yang sudah berinvestasi pada kualitas.
Pada akhirnya, standar tidak pernah bekerja sendirian.
Ia membutuhkan produsen yang mau berinvestasi.
Pemerintah yang konsisten mengawasi.
Dan konsumen yang bersedia menghargai kualitas.
Kalau salah satu tidak ada, standar akan tetap menjadi dokumen yang baik, tetapi belum tentu menjadi insentif yang baik bagi dunia usaha.