Belakangan ini saya sering membaca kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) akan membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir. Alasannya sederhana. Kalau setiap pertanyaan dijawab AI, setiap tulisan dibuat AI, dan setiap masalah diselesaikan AI, untuk apa kita berpikir sendiri?
Menurut saya, kekhawatiran itu masuk akal.
Bahkan beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa ketika seseorang menerima jawaban AI begitu saja tanpa mengevaluasi atau memverifikasinya, keterlibatan kognitifnya memang berkurang. Psikologi mengenal fenomena ini sebagai cognitive offloading: kecenderungan memindahkan sebagian beban berpikir kepada alat bantu.
Jadi, kalau ada yang khawatir AI membuat kemampuan berpikir menurun, saya rasa itu bukan ketakutan yang dibuat-buat.
Namun saya juga merasa kita pernah berada di situasi yang hampir sama.
Ketika kalkulator mulai digunakan di sekolah, banyak orang khawatir anak-anak tidak lagi mampu berhitung.
Ketika komputer mulai masuk ke kantor, muncul kekhawatiran pegawai akan kehilangan kemampuan menghitung secara manual.
Ketika GPS menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, orang mengatakan manusia akan lupa membaca peta.
Sebagian kekhawatiran itu memang terbukti.
Hari ini, banyak orang tidak lagi hafal nomor telepon. Kita juga lebih jarang menghitung akar kuadrat tanpa kalkulator atau menghafal rute perjalanan seperti generasi sebelumnya.
Tetapi apakah itu berarti teknologi membuat manusia lebih bodoh?
Saya tidak yakin.
Yang berubah bukan kemampuan berpikir manusia, melainkan jenis pekerjaan yang harus dilakukan otak.
Kita tidak lagi dinilai dari kemampuan menghitung perkalian tiga digit di kepala. Kita dinilai dari kemampuan menggunakan hasil perhitungan itu untuk mengambil keputusan.
Perubahan yang sama terjadi ketika spreadsheet menggantikan pembukuan manual. Akuntan tidak kehilangan pekerjaannya karena Excel. Justru ekspektasi terhadap mereka meningkat. Analisis menjadi lebih kompleks, laporan lebih cepat, dan keputusan bisnis harus diambil dengan data yang jauh lebih banyak.
Menurut saya, AI sedang membawa perubahan yang serupa.
Bedanya, kali ini yang dibantu bukan hanya pekerjaan mekanis, tetapi juga pekerjaan intelektual.
AI dapat merangkum laporan, menerjemahkan dokumen, membantu menulis kode, menyusun draf tulisan, bahkan menghasilkan ide dalam hitungan detik.
Di sinilah banyak orang mulai merasa tidak nyaman.
Kalau AI sudah bisa melakukan sebagian pekerjaan berpikir, apa yang masih menjadi peran manusia?
Saya justru melihat jawabannya ada pada cara kita menggunakan AI.
Kalau AI dipakai untuk menghindari berpikir, kemampuan berpikir memang bisa menurun.
Tetapi kalau AI digunakan untuk mempercepat pekerjaan yang rutin sehingga kita punya lebih banyak waktu untuk menganalisis, mempertanyakan, dan mengambil keputusan, hasilnya bisa berbeda.
AI tidak menghilangkan kebutuhan berpikir.
AI mengubah titik awal berpikir.
Dulu kita memulai dari halaman kosong.
Sekarang kita sering memulai dari sebuah draf.
Dulu kita menghabiskan waktu mencari informasi.
Sekarang kita lebih banyak menghabiskan waktu memeriksa apakah informasi itu benar.
Perubahan ini sebenarnya bukan hal yang asing dalam sejarah teknologi.
Forklift tidak menghilangkan pekerjaan di gudang. Forklift mengubah jenis pekerjaan manusia dari mengangkat barang menjadi mengelola perpindahan barang.
Komputer tidak menghilangkan kebutuhan akan akuntan. Komputer mengubah akuntan dari penghitung angka menjadi analis.
Menurut saya, AI akan melakukan hal yang sama terhadap pekerjaan berbasis pengetahuan.
Yang berubah bukan kebutuhan akan manusia, melainkan nilai tambah yang diharapkan dari manusia.
Ironisnya, setiap kali teknologi meningkatkan produktivitas, ekspektasi juga ikut meningkat.
Ketika email ditemukan, orang berharap komunikasi menjadi lebih cepat.
Yang terjadi justru kita diharapkan membalas email lebih cepat.
Ketika rapat daring menjadi mudah, jumlah rapat bertambah.
Ketika AI mampu menyusun draf laporan dalam lima menit, kemungkinan besar atasan tidak akan berkata, "Sekarang pulanglah lebih awal."
Yang lebih mungkin terjadi adalah laporan yang sama diharapkan selesai hari itu juga.
Sejarah menunjukkan bahwa teknologi jarang mengurangi pekerjaan.
Teknologi mengubah standar produktivitas.
Karena itu, saya kurang setuju jika perdebatan tentang AI hanya berhenti pada pertanyaan apakah AI membuat manusia malas berpikir.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita belajar menggunakan AI dengan cara yang benar.
AI seharusnya membantu kita berpikir lebih jauh, bukan menggantikan proses berpikir.
Ia seharusnya menjadi partner untuk menguji ide, mencari sudut pandang lain, atau mempercepat pekerjaan yang berulang. Bukan menjadi tempat kita menyerahkan seluruh proses penalaran.
Ada satu hal lagi yang menurut saya menarik.
Saat ini kita hidup pada masa ketika model AI terbaik di dunia masih relatif mudah diakses. Banyak layanan menyediakan versi gratis atau biaya berlangganan yang jauh lebih murah dibandingkan nilai produktivitas yang bisa dihasilkan.
Saya tidak yakin kondisi ini akan berlangsung selamanya.
Sejarah teknologi menunjukkan pola yang hampir sama. Pada fase awal, teknologi dibuat semudah mungkin agar banyak orang menggunakannya. Ketika ekosistem mulai terbentuk dan ketergantungan meningkat, model bisnis biasanya ikut berubah.
Karena itu, menurut saya sekarang adalah waktu terbaik untuk belajar menggunakan AI.
Bukan karena AI akan menggantikan semua pekerjaan.
Bukan juga karena semua orang harus menjadi ahli AI.
Tetapi karena kemampuan bekerja bersama AI kemungkinan akan menjadi keterampilan dasar, seperti menggunakan komputer, internet, atau spreadsheet.
Pada akhirnya, saya tidak terlalu khawatir AI membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir.
Saya justru lebih khawatir jika kita memilih menjauhi teknologi ini hanya karena takut disalahgunakan.
Kalkulator tidak menghilangkan matematika.
Komputer tidak menghilangkan kemampuan berpikir.
Dan saya menduga AI pun tidak akan menghilangkan kecerdasan manusia.
Yang akan membedakan adalah bagaimana kita memilih menggunakannya.
Karena pada akhirnya, setiap teknologi adalah alat.
Alat yang sama bisa membuat manusia menjadi lebih malas.
Atau justru membuat manusia mampu berpikir lebih jauh daripada sebelumnya.
Pilihannya, seperti biasa, ada pada kita.